Alima dan semburat ‘rasa’

Alima kecilku sudah semakin bertumbuh. Tidak hanya kakinya yang semakin panjang, atau rambutnya yang semakin ikal, tapi juga semburat emosi yang muncul dalam dirinya semakin hari semakin beraneka. Mungkin emaknya yang kelewat lebay, tapi akhir-akhir ini bener-bener merasa alima kecilku sudah pandai bermain rasa. Mulai dari mengenali emosi orang-orang disekelilingnya, hingga mengekspresikan emosinya sendiri.

Misalnya saja kemarin, pas abinya ke jakarta,, bener-bener ngerasa kalau alima sudah mulai mengeeti kapan uminya lagi full atention dan bener-bener just for her. Atau kapan uminya lagi cuek beibeh karena lagi berasyik masyuk sama abinya. Dan yang bikin hati teriris-iris,, saat-saat kami (me n hubby) kelewat asyik ngobrol berdua(maklum jarng ketemu), dan lupa sama gadis kecil kami,, dy g nagis, atawa memberikan perlawanan spy dipeehatikan lagi. tapi menyingkir trus ngglendot sama khadimat dengan ekspresi kuciwa berat. Kalau sudah begitu ngerasa bersalah banget. Kadang emang dilema, saya dan suami pasangan LDR yang ketemunya sebulan sekali. Maka saat ketemu ngerasa benar, klo misua pengen punya sedikit waktu berdua ma istrinya,, tapi imbasnya gadis kecil kami jadi tersisih.

Sekarang kalau misal uminya pergi, dan dy g diajak, pasti pulangnya uminya bakaln dijutekin. Dan yang paling sedih kemarin, karena sibuk ngerjain tugas, hampir sejaman ngendon di kamar. Alimanya di luar anteng, karena g nyadar uminya lagi di rumah. Biasanya kalau pas begitu, pas uminya keluar kamat, dy happy banget. Senyum selebar parabola plus mata berbinar-binar. Tapi ini, boro-boro ketawa, cuma ngeliat sepintas doang, yrus asyik lagi ma mainannya. Bener-bener patah hati…

My little girl is growing up, and being smarter day by day.

Jadi inget, kata-kata ibu-ibu di kantor dulu. Saat anak semakin besar, kebutuhan dy secara fisik ke kita akan semakin berkurang, karena dy makin pinter untuk memenuhi kebutuhan daarnya sendiri. Tapi kebutuhannya atas perhatian, dukungan secara psikis akan semakin membesar, dan itu jauh lebih sulit ketimbang, ngasih makan, bantuin ke kamar mandi atau hal-hal fisik lainnya.

Parenting is long long journey. Harus berbenah dan terus belajar. Semoga Alloh memberi kekuatan untuk beratnya amanah.

Iga Bakar Saos Haoshin

Weekend ini suami datang, semangat memasak ‘neko-neko’ pun menggebu-gebu. Setelah serching, & ngaduk-aduk isi website aneka resep bertemulah dengan resep iga bakar saos haoshin ala keluarga nugraha. Dari komposisi bumbu kayaknya so spicy, dan berhubung orang rumah emang doyan makanan berbumbu kuat,, maka dipilih masakan ini untuk menyambut kedatangan misua tercinta.
Kalau ada yang belum tahu apa itu saos haoshin, silahkan googling ya.. Intinya itu hampir seperti saos tiram, yang ingradientnya dari bermacam-macam bahan dan jadilah saos yang rasanya unik. Rasanya sendiri asem gurih,, beli di hero, harganya 24k ( untuk berkali-kali masak ).
Untuk iganya, belinya di pasar ceger, beli iga lokal. Ada yang bilang sih, enakan iga impor lebih gampang empuk, tpi berhubung maharani sek kembali ke produk dalam negeri..hehe. Waktu itu milih yang ada lemaknya, dengan pertimbangan dagingnya lebih banyak. Tapi it’s wrong choice, karena si lemak ini bener-bener jadi penyakit. Kalo dingin dikit langsung menggumpal, dan kalau dimakan nempel di langit-langit mulut. Jadi kalau ada yang  tertarik bikin resep ini, tipsnya pilih daging yang lemaknya dikit ato kalau bisa g ada samsek.

Bahan :
Iga 1kg
Bawang putih cincang
Bawang bombay
Saos tiram
Saos haoshin
Kecap asin
Bunga lawang
Kulit jeruk
Air jeruk nipis
Jahe cincang

Cara memasak :
1. Bawang putih, bawang bombay, jahe cincang dan bunga lawang ditumis. Setelah itu masukan bahan lainnya, direbus sampai iga empuk.
2. Sisihkan iga, kuahnya disaring.
3. Iga dibakar (aku pakai happy call) dengan sesekali diolesi saosnya.
4. Setelah kering dan kecoklatan hidangkan dengan saosnya.
5. Karena orang rumah suka pedes, dan si iga dan saosnya samsek g pedes maka si saos ditambahin irisan cabe rawit plus tomat yang diiris kecil-kecil.

Ini resep yang yummy dummy,,, asem gurih seger. Maknyus.. Sayang igaku berlemak, jadi tiap makan musti dipanasin, dan kalau dingin dikit langsung menggumpal lemak2nya… Kapan2 mau nyoba buat ikan or ayam.

Klapertat nangka uji coba

Gegara happy call baru, semangat memasak neko-neko berkembang pesat. Daridulu kala pengen banget bikin klapertart, pernah makan di rumah seorang temen hampir setahun yang lalu. Dan dalam ingatan yang terbatas, rasanya enaaaaakkkk banget. Semangatlah mengaduk-aduk resep. Dan dapet resep -yang kayaknya gampang banget- dari webnya mbak farahquin.
Hari jumat, karena libur kuliah, langsung menuju dapur dan bergulat dengan tepung. Resepnya, seperti yang sudah dibilang tadi -tampak- mudah. Tapi,, ternyata langkah-langkah yang tampak sederhana saat prakteknya jauh darinsederhana. Benar-benar harus menambah jam terbang..

Bahan:
25 gr tepung terigu ( diganti satu gelas belimbing, karena kecelakaan, udah terlanjur dimasukin)
25 gr tepung maizena ( diganti setengah gelas belimbing )
25 gr tepung custord ( diganti setengah gelas belimbing maizena )
Gula pasir
Air kelapa
Kuning telur
Buah kelapa muda
Nangka diiris kecil-kecil
Vanili
Garam ( ini kelupaan )

Langkah-langkah (ala saya)
1. Pertama gula pasir dan air kelapa di rebus sampai gula larut.
2. Kemudian semua tepung dicampur dengan vanili dicampur dengan sedikit air kelapa. Diaduk samapai tidak menggumpal
3. Tepung yang sudah cair tersebut dimasukan dalam air rebusan kelapa dan gula. Dalam tahap ini, beneran kaget, pas tepungnya menggumpal.. Baru ngeh, klo tepung maizena kan basicly emang menggumpal kalau kena air panas. Langsung panik ngaduknya, dan rada gosong dibawah… Bener-bener tanda-tanda buruk
4. Adonan yang sudah jadi diberi margarin dan kuning telur. Abis itu dimasukan daging kelapa dan nangka. Dan direbus lagi, pas ini bentar banget. Trauma gosong yang pertama tadi
5. Adonan yang sudah jadi dimasukan ke dalam alumunium foil. Happy call dipanasi bentar sambil dikasih air sedikit ( karena katanya teknik panggangnya eudemaree,, dipanggang dengan sedikit air ). Setelah agak panas alumunium foil dimasukan, dan ditutup.
6. Setelah lima belas menitan dibuka dan diberi taburan keju. Tutup lagi, tunggu sampai kecoklatan.

Langkah 5 dan 6 bener-bener kreasi senditi. Dan karena g pernah bikin kue, jadi penasaran terus, berkali-kalin dibuka untuk memastikan kalau g gosong. Hampir tiga perempatan jam dipanggang ( dg beberapa kali masukin dan keluarin, karena pas dipotong ternyata masih basah dalamnya,,, bener2 amatir).

Setelah dibuka, masih agak panas dipotong, dan tarara… Bawahnya gosong, tengah masih belum padet ( g kayak yang dimakan dinrumah temen itu ). Karena sakit hati, langsung dimasukan kulkas. Besoknya diabuka, dan dalemnya yang semula masih rada basah udah padet, rasanya makin mirip sama yang dulu dimakan ( lagi2 dg ingatan yang terbatas itu). Apa emang salah nakar resep atau emang kalu klapertart itu harus dimasukin kulkas dulu… Hmm harus praktek lagi nih. (siap2 rogoh dompet lebih dalam). 🙂

Wanita, Ketrampilan dan Otak Kanan

Suatu siang, saya bertanya pada seorang kawan ‘bisa merajut?’, ‘g bisa, dan g tertarik untuk bisa.’ jawabnya tegas dan lugas.
‘Buat apa toh banyak yg jual.. Murah lagi’. Terangnya logis. Iya juga sih,, (dalam hati saya menyepakati).

image

Kalau dipikir-pikir wanita sekarang memang dimanja. Tidak diributkan dengan beragam ketrampilan ala wanita yg dulu seolah menjadi hal yg wajib dimiliki. Wanita yg tidak bisa memasak tidak perlu khawatir, toh warung makanan bersebaran. Dengan beragam variasi menu dan harga. Kalau mau yang sehat dan higeinis pun sekarang sudah mulai marak bermunculan. Rumah makan yang menawarkan menu sehat dan terjamin kebersihannya.

Apalagi menyangkut ketrampilan wanita tambahan lainnya. Menjahit,,? Buat apa, toh beli baju jadi jauh lebih murah dan bergaya. Merajut,,? Sudah susah, lama pula. Menghabiskan waktu dan tenaga.. :’P

Jika berpikir secara praktis, memiliki ketrampilan dasar -dan tambahan- ala ibu-ibu tidak lagi menjadi kebutuhan yang mendesak. Tapi (sampai saat ini) saya sendiri masih tetap sangat berminat untuk memilikinya. Bukan untuk berpamer ria,, atau menganut mahzab seorang teman yang bilang ‘cinta datang dari perut, jadi istri2 yang mau disayang suami musti pandai memanjakan perut’.

Buat saya belajar ketrampilan wanita adalah membunuh kejenuhan, selingan dari kerja otak kiri, biar otak kanan sedikit dioptimalkan. Bekerja di tempat yg otak kiri ‘banget’, dan rutinitas hidup yang lebih sering diselesaikan dengan ‘otak kiri’ itu melelahkan. Ada masanya bergelut dengan bumbu dapur, terigu, kain dan jarum memberikan kesenangan tersendiri. Mengakhiri segala logika runtut, menjadi eksplorasi penuh kejut (semisal roti bantet, atau masakan keasinan).

I love it,, meski tidak berbakat. Meski -kalau dihitung dengan rupiah- jauh dari untung. It’s just having fun, yg wajib dilakoni dg fun. Jika anda wanita bekerja yg jenuh seperti saya, patut dicoba. Saratnya satu,, ojo spaneng.

Gagal ato berhasil santai saja.. Namanya juga main2..:’P

Sop Tunjang Idola Keluarga

Awalnya dari diajak seoramg teman ke rumah makan sop tunjang di dekat GOR Pekanbaru. Langsung terpikat dengan rasanya yang nyamleng. Tidak lama setelah, suami pun dirayu-rayu untuk memtraktir makan di situ.. Dan (seperti yang sudah diduga) beliau juga jatuh cinta. Sop tulang persendiaan yang disajikan panas dengan bumbu yang kuat. Yummy.
Cuma satu kelemahannya, nasinya kurang enak, keras dan rada aneh. Tapi kalau dibungkus jadi agak berkurang citarasa sopnya. Kata suami karena g sepanas kalau makan di tempat, dan kalau dipanasi lagi rasanya jadi lain (mungkin sugesti…:’).
Karena penasaran, terpikirlah untuk membuat sop tunjang sendiri. Percobaan pertama menggunakan bumbu sop biasa, dan hasilnya seperti sop biasa… :’P yaiyalahh. Setelah mengubek-ubek perpustakaan maya ketemulah bumbu sop yang rada kompleks. Dan setelah dipraktekan, limayanlah… Udah g kayak sop biasa.
Ini resepnya,, siapa tahu ada yg berminat memraktekan. Selamat mencoba.. :’)

image

Bahan :
1kg tulang persendiaan sapi ( bisa juga dicampur  dengan tulang iga)
6 buah bawang putih dicincang halus
1 buah bawang bombay dipotong halus
Lada bubuk secukupnya
Pala bubuk secukupnya
Cengkeh
Kapulaga
Jahe
Garam
Minyak goreng
Daun bawang potong kecil-kecil
Bawang goreng

Cara Membuat
1. Rebus tulang persendian dengan cengkeh, kapulaga, pala bubuk dan jahe yang sudah dikeprek. Direbus dengan api kecil.
2. Tumis bawang putih cincang dengan bawang bombay hingga harum. Kemudian masukan dalam rebusan tulang. Terus memasak dalam api kecil biar daging empuk. Jika selama merebus ada lemak yang naik, ambil dan buang.
3. Jika daging sudah empuk, disaring kuahnya (karena kan banyak bumbu kecil seperti cengkeh dan kapulaga, kalau g disaring kasian yang makan banyak ranjaunya… :’). Ampasnya dibuang, tinggal tulang dengan kuah yang udah bersih.
4. Masukan potongan daun bawang, masak sebentar hingga daun layu. Angkat, tabaru bawang goreng dan sajikan dengan sambel dan irisan jeruk nipis. Silahkan mencoba.