closer

Beberapa saat setelah menikah, mungkin akan muncul perasan jika lelaki (perempuan) yang anda nikahi tidak sehebat, tidak setampan (secantik), tidak sebaik, tidak sesempurna lelaki (perempuan) yang sama yang anda kenal sebelumnya. Jika perasaan ini muncul, bukan berarti dia telah menipu anda, juga tidak bisa disimpulkan jika anda telah keliru dalam mengenali seseorang. Semua itu hanya masalah sudut pandang atau lebih tepatnya masalah jarak pandang.

Menikah itu menghapus jarak, dari ratusan meter atau bahkan puluhan km yang membentang dari rumahmu ke rumahku menjadi beberap cm yang memisahkan dua bantal dalam satu ranjang. Menikah itu menghapus batasan, dari tabunganmu dan tabunganku menjadi tabungan kita. Menikah itu meleburkan identitas, dari nona singgle nan independen menjadi nyonya yang terikat dan mengikat. Dari keluargamu dan keluargaku menjadi keluarga besar kita.

Konsekuensi paling logis dari jarak pandang yang menipis adalah terkuaknya segala aib. Dan itu wajar dan manusiawi. Jika anda lihat dari jarak ratusan meter, wajah seseorang akan tampak semulus porselen. Tapi jika jarak tersebut diperpendek, maka akan nampaklah kerutan-kerutan tipis, bekas jerawat, atau kekurangan lainnya. Bulan misalnya, jika kita lihat dari jauh nampak cantik mempesona. Tapi konon katanya jika dilihat lebih dekat permukaan bulan penuh lubang dan buruk rupa.

Maka jika kemudian anda menemukan banyak sekali kekurangan pada”nya” yang dulu nampak sempurna. It’s not about him/her, melainkan (seperti yg saya tuliskan sebelumnya) hanya masalah jarak pandang. Karena anda melihatnya lebih dekat dari jarak pandang yang anda gunakan untuk melihat orang kebanyakan. Sangat tidak adil jika hasil pengamatan dari jarak nol cm tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil pengamat ratusan atau bahkan ribuan cm. Maka jika anda berkesempatan melihat orang lain dengan jarak sama, kemungkinan besar simpulan yang anda dapatkan akan tetap sama : He (She) is much better than others.

Sekedar konfirmasi, tulisan ini tidak dibuat untuk membesarkan hati saat kecewa menghinggapi.. :’). Melainkan nasehat dari seseorang yang merasa cukup lama menikah –guaya–, yang semoga saja berguna untuk para pemula yang mungkin spt sya, pernah dihinggapi syndrome cinderella, (berharap) menikah dengan pangeran tampan lalu hidup bahagia selama-lamanya. Saat satu saja kesalahan kecil muncul, seolah semuanya ikut hancur. Jangan seperti itu anak muda..–sok tua–. Lihatlah segalanya lebih dekat, maka engkau akan mengerti lebih bijaksana. (Cuplikan lagunya sherina.. Opo jal).

Tapi syukurlah saya menikah. Karenanya saya bisa keluar dari negeri dongeng untuk hidup sebenar-benarnya hidup, dan merasakan jenis kebahagiaan yang benar-benar hidup.

Happy marriage. Semoga menikah membuat anda tentram dan bertumbuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s