merawat persahabatan

Saya ini tipikal orang yang ‘mudah’ menemukan sahabat, sekaligus mudah melepaskannya. Di setiap tempat yang saya singgahi, meski jumlahnya tak banyak, selalu ada orang-orang yang lekat di hati.

Tapi saat saya mulai berpindah, maka berkesudahaan pula hubungan saya dan mereka. Awalnya dengan dalih sibuk, tak sempat berkabar2 ria.. Lalu jika sudah lama, alasan mulai berganti jadi ‘sungkan’, sudah terlalu jauh gap info yang membentang, yang berimbas pada percakapan yang canggung dan hambar (yang pastinya hanya menurut perasaan saya saja).

Mungkin karena saya ini orang yang terlalu fokus, pada masa kini, pada tempat dimana saya berpijak (sekaligus lingkungan sekeliling -saja-).

Atau kemungkinan besar lainnya, saya ini orang yg terlalu malas. Merawat hubungan itu melelahkan, untuk orang dengan pola hidup yang lempeng dan datar semacam saya. Mau curhat, apa juga yg mau dicurhatin, my live is so flat. Mau nanya kabar, terlalu klise,, dan kalau terus-terusan, jdi kriuk. Mau mengulik dia dan masalahnya, kok ya kepo bngt.

Dan begitulah setiap saya meneguhkan hati untuk merawat sahabat-sahabat lama saya, energi saya terkuras untuk menyiapkan topik pembicaraan. Belum lagi ketakutan akan penolakan atau perbincangan yg tidak menyenangkan dua orang yang saling kebingungan mencari bahan pembicaraan. Rasanya lebih menyenangkan jika kenangan terakhir yg kami punya adalah perbincangan tanpa akhir dua orang yang seolah tak pernah kehabisan kata. Tapi tentu saja itu pilihan pengecut dari seorang pemalas.

Seorang kawan saya begitu pandai merawat hubungan. Kadang saya tak habis pikir dengan energi berlebih yg dimilikinya terus berkabar dengan orang-orang sudah nun jauh di sana. Dan tentu saja, sya cukup tahu, tidak semua orang yang dia ‘kasihi’ membalas dengan hal yang sama. Ada yang merespon dg sangat baik, cukup baik bahkan tidak baik.

Pernah suatu saat saya bertanya : “apa kamu g capek ?”. Dan jawabnya : “sayang kalau sampai hilang”.

Saya harus belajar banyak darinya, karena buat saya merawat persahabatan adalah PR besar yang sampai kini belum terpecahkan.

Semoga saya bisa melawan malas, ketakutan tak beralasan, dan (pastinya) belajar mengikhlaskan niat. (Seharusnya) tidak penting bagaimana para sahabat lama akan merespon sikap (sok akrab) yang saya coba bangun. Karena menyambung silaturahmi itu perintah.

Dan mengutip perkataan seorang bijak : “ini bukan masalah saya dengan anda, tpi masalah saya dengan Tuhan saya”. Semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s