When I am afraid

Saat saya takut, saya lari. Dengan beragam pembenaran yang disusun dengan rapi. Pembenaran untuk tetap menjadi penonton yang duduk di tepi. Mengolok dengan kencang, bersorak dengan riang, merasa bangga tanpa harus terluka.
Saat saya takut, saya bersembunyi. Di dalam lorong sempit bernama ‘nanti’. Saat segala bisa ditunda atas nama persiapan yang lebih mumpuni. Walau sejujurnya ‘tak siap’ hanyalah aleorasi dari diri yang tak berani.
Saya saya takut, saya pura-pura berani. Berteriak kencang, membusungkan dada dan menghardik setiap orang. Merancang beragam ilusi agar tak ada yang mampu melihat gemetarnya jiwa yang kerdil.
Tapi suatu hari, ketakutan datang menempuk punggung saya. Dan dengan lembut ia berkata : “aku hanyalah sebentuk rasa bernama takut, kenapa kamu terus pergi menjauh. Gemgamlah tanganku dan akui keberadaanku, karena aku hanyalah bagian dari dirimu”.
Punggung saya meremang dan telinga saya bergetar. Namun hidup terus melaju. Pun ketika saat saya takut. Maka sejak saat itu saya putuskan untuk terus hidup, meskipun takut. Dengan sebenar-benarnya hidup. Dengan segala yang harus dihadapi saat ini (bukan nanti).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s