gadis langit dan lelaki bumi

Aku gadis langit yang menikahi lelaki bumi. Aku jatuh cinta padanya sudah sejak mula-mula. Entah kenapa, mungkin karena aku dan dia beda dunia.

Aku gadis langit yang menikahi lelaki bumi. Setalah menikah ia mengajakku terus berlari. Di atas ujung runcing kerikil yang membuat kakiku nyeri. Aku bilang padanya : “sakit”, berharap dia menggendongku sampai di tepi. Tapi dia hanya bilang : “tahan saja, lama-lama kau akan terbiasa.”

Aku gadis langit yang menikahi lelaki bumi. Padanya aku bercerita tentang pelangi, tentang ujung lengkungnya yang menyimpan misteri. Tentang larik warnanya yang berotasi membentuk mentari. Tapi dia hanya bilang : “aku tak suka pelangi, ia hilang saat gerimis pergi.”

Aku gadis langit yang menikahi lelaki bumi. Dalam remang senja kami bertengkar hebat. Dia tak suka jika aku terlalu lama mengangkasa, katanya awan yang kupijak terlalu rapuh dan ia takut aku terjatuh. Tapi aku tak peduli, aku hanya ingin melihat lebih tinggi. Menatapi gunung-gunung yang berubah jadi manik-manik. Hanya dari diketinggian aku melihat segalanya jadi mungkin. Dari bumi tempatnya berpijak, bagiku semua terlihat besar dan menakutkan. Kami saling berteriak, merobek senja dengan kerasnya perdebatan. “Aku ingin ke surga” kataku bersikukuh, “Dan ia hanya ada di langit, bagaimana aku bisa ke sana jika aku terus menapak bumi?”.

Aku gadis langit yang menikahi lelaki bumi. Subuh merayap naik dan aku masih saja melayang bersama mimpi. Hanya gaduh yang kemudian membuatku terjaga penuh. Di luar lelakiku telah bermandi peluh. “Sedang apa ?” tanyaku ingin tahu. “Membuat batu bata.” Jawabnya datar seperti biasa.

Aku gadis langit yang menikahi lelaki bumi. Sejak saat itu dia mengajariku membuat batu bata. Benda coklat empat persegi yang bentuknya biasa saja. Kami berpeluh sejak mentari muncul hingga menggenapkan putarannya. Jari-jariku coklat membatu, sedang bahu dan leherku mulai kaku.”Aku jenuh” keluhku. Tapi dia hanya bilang : “teruskan saja, lama-lama kau akan terbiasa”.

Aku gadis langit yang menikahi lelaki bumi. Sudah tiga purnama kami terus membuat batu bata. Tumpukan tingginya sekarang sudah mencapai batas cakrawala. Sudah tiga ratus kali aku merajuk padanya, memohon semua ini disudahi, tapi ia terus bergeming seolah tak mau mengerti. ” Sampai kapan kita terus seperti ini ?” tanyaku di ujung hari. “Sampai cukup batu bata untuk membuat tangga”. “Untuk apa tangga?” tanyaku tak jua mengerti. ” Untuk membawamu ke surga.” jawabnya lirih membuat dadaku perih.

Aku gadis langit yang menikahi lelaki bumi. Aku jatuh cinta padanya sudah sejak mula-mula. Dan aku mulai mengerti kenapa. Karena aku tahu dia luar biasa dalam pemikirannya yang sederhana.